Makassar,zona redaksi.id— Komisi IV DPR RI menegaskan dukungannya terhadap penguatan peran Badan Karantina Indonesia sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan keamanan hayati. Dukungan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto saat Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI Masa Sidang IV Tahun Sidang 2025–2026 di Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (23/4).
Dalam kesempatan itu, Panggah menyampaikan bahwa peran karantina menjadi instrumen penting untuk memastikan lalu lintas komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan yang masuk maupun keluar wilayah Indonesia tetap aman dari ancaman hama, penyakit, organisme pengganggu, serta risiko biologis lainnya yang dapat mengganggu produksi pangan nasional.
“Sebagai lembaga yang melindungi kita semua, kami sepakat bahwa peran Karantina ini menjadi sangat strategis dan penting sehingga perlu didukung semuanya baik terkait dengan SDM-nya, maupun terkait dengan fasilitasnya,” jelas Panggah.
Lebih lanjut, dalam peninjauan yang dilakukan di Satuan Pelayanan Bandara International Sultan Hasanuddin Makassar, fasilitas karantina dan semangat kerja petugas karantina dinilai sudah baik dan profesional. Meski demikian, dengan wilayah Indonesia yang luas dan tantangan biosekuriti yang semakin kompleks, kapasitas fasilitas dan dukungan sumber daya manusia untuk karantina masih perlu diperkuat.
“Kita sepakat dari Komisi IV mendukung penguatan kelembagaan Badan Karantina Indonesia, termasuk melalui dukungan anggaran agar pelaksanaan tugas dan fungsi karantina semakin optimal,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean menyampaikan bahwa penguatan karantina terus dilakukan secara menyeluruh, baik melalui transformasi layanan digital, modernisasi laboratorium, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sahat menjelaskan bahwa saat ini Karantina telah menggunakan sistem digital, dan selanjutnya akan berfokus pada revitalisasi laboratorium dan peningkatan SDM.
“Laboratorium merupakan senjata karantina kita untuk bertempur. Karena itu kita dorong modernisasi alat, pembenahan gedung, hingga peningkatan kemampuan SDM sebagai bagian dari penguatan seluruh aspek perlindungan keamanan hayati,” jelas Sahat.
Dalam kesempatan itu, Sahat menambahkan bahwa mobilitas hewan, ikan, dan tumbuhan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan cukup tinggi. Data lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan yang dilalulintaskan melalui Karantina Sumsel menunjukkan angka yang cukup tinggi. Hal ini menegaskan posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu hub logistik utama di kawasan timur Indonesia, baik melalui pelabuhan laut maupun bandar udara.
Sebagai informasi, data ekspor yang disertifikasi melalui Karantina Sulawesi Selatan sepanjang 2025 menunjukkan performa yang impresif. Komoditas asal daerah ini telah menembus 63 negara tujuan dengan total volume mencapai 355.431 ton dan nilai ekspor sekitar Rp11,1 triliun.
Komoditas unggulan ekspor di sektor perikanan seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, dan karagenan menyumbang nilai ekspor sekitar Rp5,6 triliun. Kemudian pada sektor pertanian terdapat komoditas rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mede, dan porang yang memiliki nilai ekonomi sekitar Rp5,5 triliun. Terdapat juga komoditas hewan yang diekspor meliputi awetan kupu-kupu, kulit reptil, sarang burung walet, dan madu yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi sekitar Rp979 juta. Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara antara lain China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vietnam, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis.
Selain ekspor, terdapat juga lalu lintas domestik keluar (dokel) mencapai sekitar 439,55 juta kilogram dengan nilai Rp5,12 triliun, dan domestik masuk (domas) sebesar 115,39 juta kilogram dengan nilai Rp1,39 triliun. Sedangkan untuk impor, tercatat volume sekitar 264,35 juta kilogram dengan nilai mencapai Rp1,10 triliun.
Komitmen bersama antara Barantin dan Komisi IV DPR RI ini diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam mewujudkan sistem karantina yang maju. Melalui dukungan tersebut, diharapkan kedepannya Barantin dapat lebih kuat sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan perkarantinaan di seluruh pintu pemasukan dan pengeluaran, khususnya di kawasan timur Indonesia yang memiliki potensi besar sekaligus tantangan yang tidak ringan.
“Dukungan terhadap penguatan kelembagaan meliputi transformasi layanan digital, modernisasi laboratorium hingga peningkatan SDM diharapkan dapat semakin memperkuat peran karantina sebagai instrumen strategis dalam melindungi sumber daya hayati, mendukung kelancaran perdagangan, dan menjaga ketahanan pangan nasional,” tutup Sahat.
















