Makassar,zona redaksi.id– Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar terus memperkuat gerakan pengurangan sampah dari sumber melalui Program Jelajah Sampah 2026.
Memasuki titik keempat pelaksanaan, program yang diinisiasi DLH Kota Makassar tersebut digelar di Kecamatan Manggala, Minggu (12/7/2026), sebagai bagian dari upaya mewujudkan Makassar Bebas Sampah 2029 melalui perubahan perilaku masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Aula Kecamatan Manggala ini menjadi wadah kolaborasi antara Pemerintah Kota Makassar, Dewan Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan, serta masyarakat dalam membangun budaya memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Hj. Melinda Aksa Munafri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Dr. Helmy Budiman, Camat Manggala Ahmad, S.Sos., para lurah se-Kecamatan Manggala, anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, ketua RT/RW, tokoh masyarakat, kader PKK, dan warga
Sebagai perangkat daerah yang menangani pengelolaan persampahan, DLH Kota Makassar terus mengedepankan pendekatan edukatif melalui Jelajah Sampah 2026. Program ini tidak hanya berfokus pada penanganan sampah di hilir, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar mampu mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Kecamatan Manggala dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai wilayah yang menaungi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. Kondisi tersebut menjadikan Manggala sebagai kawasan penting untuk memperkuat edukasi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung sistem persampahan yang berkelanjutan.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa Munafri, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan sistem pengangkutan menuju TPA.
Perubahan harus dimulai dari rumah. Ketika setiap keluarga mampu memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya, maka beban TPA akan berkurang secara signifikan. Budaya inilah yang ingin kita bangun bersama di Kota Makassar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, menjelaskan bahwa Jelajah Sampah 2026 merupakan bagian dari transformasi pengelolaan sampah Kota Makassar dari paradigma “kumpul, angkut, buang” menuju sistem ekonomi sirkular yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui slogan “Pilah, Angkut, Berkah!”, masyarakat diajak memandang sampah bukan sebagai limbah semata, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai. Sampah organik dapat diubah menjadi kompos, pakan maggot, maupun eco-enzyme, sedangkan sampah anorganik dapat menjadi tabungan melalui bank sampah.
Helmy menegaskan, DLH Kota Makassar akan terus memperluas edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar perubahan perilaku dalam mengelola sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Melalui Jelajah Sampah 2026, DLH Kota Makassar ingin memastikan edukasi pengelolaan sampah menjangkau hingga tingkat rumah tangga. Ketika masyarakat terbiasa memilah dan mengolah sampah dari sumbernya, maka pengurangan sampah ke TPA akan semakin nyata dan target Makassar Bebas Sampah 2029 dapat dicapai bersama,” kata Helmy.
Camat Manggala Ahmad, S.Sos., menyampaikan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat hingga tingkat RT dan RW.
“Kecamatan Manggala memiliki tanggung jawab besar sebagai wilayah yang menaungi TPA Tamangapa. Karena itu, kami ingin Manggala juga menjadi pelopor perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah,” katanya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi plogging, yakni berjalan santai sambil memungut sampah di ruang-ruang publik sebagai bentuk edukasi sekaligus aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow pengelolaan sampah berkelanjutan, pasar murah, dan gerakan urban farming yang mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Peserta juga mengikuti tiga kelas praktik pengelolaan sampah rumah tangga, yakni Kelas Kompos Tumpuk dan Biopori, Kelas Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik menjadi pakan berprotein tinggi, serta Kelas Eco-Enzyme yang mengajarkan pemanfaatan limbah kulit buah dan sayuran menjadi cairan fermentasi serbaguna.
Selain penguasaan teknologi sederhana, peserta memperoleh pembekalan mengenai aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam pengelolaan sampah. Edukasi tersebut meliputi penggunaan alat pelindung diri, pemisahan sampah tajam, serta penanganan limbah rumah tangga yang berpotensi mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga keselamatan petugas kebersihan maupun masyarakat dapat lebih terjamin.
Melalui Jelajah Sampah 2026, DLH Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk menjadikan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sampah. Dengan keterlibatan aktif RT/RW, lurah, tokoh masyarakat, kader PKK, dan warga, program ini diharapkan mampu mempercepat pengurangan sampah dari sumber, memperkuat ekonomi sirkular, serta mendukung terwujudnya Makassar Bebas Sampah 2029.
![]()
















