Makassar,zona redaksi.id– Sejalan dengan tujuan aparat pemerintah kelurahan untuk mewujudkan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) demi menciptakan lingkungan yang asri dan tertata, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan kegiatan Program Kerja yang menginovasikan pembuatan deterjen alami berbahan dasar daun pepaya dan abu kayu di Kelurahan Mario Pulana, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Kamis (23/07).
Dengan judul program: “Pembuatan Deterjen Alami dari Daun Pepaya dan Abu Kayu sebagai Upaya Pengurangan Limbah Cair Rumah Tangga” , kegiatan edukasi dan praktik mandiri ini ditujukan bagi kelompok ibu rumah tangga dan penggerak PKK di Kelurahan Mario Pulana, sebagai garda terdepan pengelolaan rumah tangga.
Dengan memanfaatkan saponin dan lindi dari dapur sendiri, inovasi yang didemonstrasikan oleh mahasiswa KKN Unhas yang bernama Ummu Kaltsum menunjukkan bagaimana daun pepaya dan abu kayu sisa pembakaran yang biasanya terbuang begitu saja ternyata menyimpan potensi luar biasa.
Daun pepaya mengandung senyawa saponin yang bertindak sebagai surfaktan alami untuk menghasilkan busa dan mengangkat kotoran serta lemak. Kemudian abu kayu menghasilkan kalium karbonat (lindi/alkali) saat direndam, yang berfungsi melarutkan lemak layaknya bahan basa pada sabun konvensional.
Lalu, dengan jeruk nipis sebagai tambahan dapat berguna sebagai penyeimbang dan pemberi aroma segar alami.
“Proses pengolahan dilakukan secara sederhana melalui perendaman, pemblenderan, dan penyaringan hingga menghasilkan cairan pembersih yang biodegradable (mudah terurai alami).” ujar Ummu Kaltsum
Antusiasme peserta terlihat selama berjalannya kegiatan.
Rangkaian program diawali dengan sosialisasi mengenai pilar ke-5 dari STBM yaitu Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan dikaitkan dengan bagaimana deterjen yang mengandung fosfat dan kimia sintetis dapat menghambat saluran serta mencemari air.
Ibu-ibu PKK kemudian diajak menyaksikan demonstrasi pembuatan secara langsung, mulai dari ekstraksi bahan hingga pengujian daya bersih dan daya busa. Tak berhenti di teori, para peserta mendampingi proses praktik dari awal hingga akhir.
“Bahan-bahannya sangat mudah didapat di sekitar rumah dan cara buatnya simpel. Saya suka dengan kegiatan yang melibatkan inovasi seperti ini. Selain hemat, kita juga bisa bantu menjaga saluran air desa agar tidak tercemar,” ujar salah satu warga
Melalui indikator evaluasi yang diterapkan termasuk observasi praktik dan uji efektivitas sederhana program ini berhasil mencapai tujuannya.
Dengan hemat pengeluaran, menjaga lingkungan, serta edukasi praktis yang dilengkapi modul/panduan yang memuat tata cara pembuatan rinci agar masyarakat dapat mereplikasinya secara mandiri di rumah.
Program inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal perubahan gaya hidup masyarakat Kelurahan Mario Pulana menuju pola hidup yang lebih hijau, mandiri, dan berkesadaran lingkungan.
![]()
















