Makassar,zona redaksi.id— Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bank Indonesia Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan pemerintah kabupaten/kota se-Sulsel menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di 24 titik pada Senin (29/9/2025). Kegiatan yang dipusatkan di Kelurahan Tamarunang, Kecamatan Mariso, Kota Makassar ini, sebagai langkah nyata menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, M. Ilyas, menjelaskan, GPM merupakan wujud kepedulian pemerintah dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan.
“Gerakan Pangan Murah ini bukan sekadar acara, tetapi langkah nyata agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” kata Ilyas.
Sejak Januari 2025, sambung dia, Pemprov Sulsel bersama kabupaten/kota telah melaksanakan GPM sebanyak 833 kali. Kali ini, kegiatan dilakukan di 24 lokasi, termasuk Soppeng, Wajo, Tana Toraja, Bulukumba, Luwu, Luwu Timur, hingga Toraja Utara.
Berbagai bahan pokok dijual di bawah harga pasar. Seperti beras SPHP dipasarkan Rp57.000 per 5 kg, gula Rp17.500 per kg, minyakita bantal Rp15.000 per liter, minyakita pouch Rp19.000 per liter, dan terigu Rp9.500 per kg. Telur ayam dijual Rp55.000 per rak, paket nugget Rp100.000 untuk 5 bungkus, serta ayam potong Rp100.000 untuk 3 ekor.
Komoditas lain seperti bawang merah dan bawang putih dilepas Rp30.000 per kg, cabai rawit Rp20.000 per kg, ikan layang Rp28.000 per kg, ikan kembung Rp30.000 per kg, dan ikan cakalang Rp27.000 per kg.
Harga di pasar murah tersebut lebih rendah dibanding rata-rata harga pasar di Sulsel per 28 September 2025. Misalnya, bawang merah di pasar umum tercatat Rp38.308 per kg, bawang putih Rp36.847 per kg, cabai rawit Rp27.394 per kg, ayam ras Rp29.546 per kg, telur ayam Rp28.311 per kg, dan ikan kembung Rp44.484 per kg.
Perbedaan harga ini menjadi strategi konkret Pemprov Sulsel dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi tekanan inflasi. Menurut Ilyas, sinergi lintas sektor sangat penting untuk menghadirkan solusi nyata, terutama menjelang hari besar atau saat terjadi gejolak harga pangan.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Madya Biro Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Sulsel, Abd. Azis Bennu, menambahkan, kehadiran Bulog dan pelaku usaha pangan dalam GPM menjadi bagian penting dalam menjaga distribusi.
Azis mengapresiasi dukungan Bank Indonesia Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dalam memfasilitasi kegiatan ini. “Semoga kolaborasi ini terus dipertahankan agar inflasi Sulsel tetap terkendali,” katanya.
Selain menyediakan pangan strategis dengan harga lebih murah, GPM juga mendorong peningkatan akses pangan di tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan. Hal ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung program nasional stabilisasi harga.
Lebih lanjut, Azis menegaskan, GPM tidak hanya bermanfaat menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga memberi ruang pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai distribusi pangan. Kolaborasi dengan kelompok tani, koperasi, hingga distributor lokal menjadi kunci agar pasokan pangan tetap lancar dan merata. (*)
















