Makassar,zona redaksi.id- Tidak semua perjumpaan penting lahir dari ruang rapat. Tidak semua gagasan besar lahir dari seminar, lokakarya, atau forum-forum resmi. Ada kalanya perubahan justru datang tanpa direncanakan, di sebuah lorong kota, ketika seseorang sedang melakukan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Begitulah pertemuan kami dengan Zulfikar, anggota Satgas Kebersihan Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini.
Tidak ada agenda khusus. Kami hanya berhenti sejenak ketika melihatnya sedang memasukkan sampah organik yang telah dipilah oleh warga ke dalam karung-karung yang telah disiapkan. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Tidak pula mencari perhatian. Barangkali baginya itu hanya rutinitas. Namun bagi kami, pemandangan itu adalah sebuah pesan yang jauh lebih kuat daripada seribu lembar presentasi tentang pengelolaan sampah.
Di hadapan kami, sebuah kebijakan sedang menjelma menjadi tindakan.
Di hadapan kami, optimisme sedang bekerja.
“Perubahan sebuah kota jarang dimulai dari ruang kekuasaan. Ia lebih sering lahir dari lorong-lorong kecil, ketika warga memutuskan bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.”katanya
Pemandangan sederhana itu menjadi sangat penting karena hadir pada momentum yang juga bersejarah. Sejak 1 Agustus 2026, pemerintah menghentikan praktik open dumping di seluruh Indonesia dan mendorong pengelolaan sampah organik di sumber. Kebijakan tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan perubahan paradigma. Sampah tidak lagi boleh dipindahkan begitu saja ke tempat pembuangan akhir. Ia harus diselesaikan sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan.
Apa yang kami lihat di Kassi-Kassi adalah gambaran kecil dari paradigma baru itu.
Warga memilah sampah organiknya. Petugas mengumpulkannya secara terpisah. Artinya, rantai pengelolaan sampah mulai tersusun sebagaimana mestinya. Yang tampak sederhana itu sesungguhnya merupakan fondasi dari sebuah sistem yang lebih besar.
Selama bertahun-tahun kita terlalu sering mengukur keberhasilan kota dari tingginya gedung pencakar langit, lebarnya jalan raya, atau ramainya pusat-pusat ekonomi. Padahal, ukuran paling jujur tentang kualitas sebuah peradaban justru terlihat dari bagaimana kota memperlakukan sampahnya.
Sampah selalu jujur. Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Ketika kita gagal mengelolanya, sesungguhnya yang sedang berantakan bukan hanya lingkungan, melainkan cara berpikir kita.
Karena itulah, melihat Zulfikar mengangkat karung-karung sampah organik menghadirkan rasa optimistis yang sulit disembunyikan.
“Karung yang dipanggul Zulfikar mungkin hanya berisi sampah organik. Namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih berat: harapan agar Makassar tidak lagi menggantungkan masa depannya pada gunungan sampah di TPA.”tegasnya
Harapan itu bukan sesuatu yang mengawang-awang. Ia nyata. Ia sedang berlangsung. Makassar sedang berjalan menuju perubahan.
Namun optimisme tidak boleh membuat kita lupa bahwa perjalanan ini masih panjang.
Makassar dihuni lebih dari 1,5 juta jiwa. Menyatukan cara pandang sebanyak itu jelas bukan pekerjaan sederhana. Mengubah kebiasaan yang telah berlangsung puluhan tahun membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar daripada membangun jalan atau gedung baru.
“Mengubah perilaku 1,5 juta penduduk bukan pekerjaan semalam. Tetapi setiap revolusi sosial selalu dimulai dari satu orang yang bersedia menjadi contoh bagi yang lain.”tuturnya
Persoalan terbesar pengelolaan sampah bukanlah kekurangan teknologi.
Bukan pula minimnya regulasi.
Persoalan utamanya adalah perubahan perilaku.
Kita dapat membangun TPS3R, biodigester, bank sampah, rumah kompos, hingga fasilitas pengolahan modern. Namun seluruh infrastruktur itu akan kehilangan makna apabila sampah tetap datang dalam keadaan tercampur.
Karena itu, perubahan perilaku adalah investasi ekologis yang paling mahal sekaligus paling menentukan.
“Kebijakan dapat mengubah aturan. Teknologi dapat mengubah cara bekerja. Tetapi hanya kesadaran yang mampu mengubah peradaban.”urainya
Di sinilah kami melihat arti penting sosok seperti Zulfikar.
Ia bukan sekadar petugas kebersihan.
Ia adalah mata rantai yang menghubungkan kebijakan negara dengan tindakan masyarakat.
Ia membuktikan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan panggung besar. Ia membutuhkan konsistensi.
“Sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berdiri di atas mimbar. Kadang ia justru lahir dari tangan-tangan yang setiap pagi memungut apa yang kita abaikan.”
Makassar membutuhkan lebih banyak Zulfikar.
Bukan satu.
Bukan sepuluh.
Tetapi ratusan, bahkan ribuan.
Bayangkan apabila di setiap kelurahan hadir petugas yang bekerja dengan disiplin sebagaimana dirinya. Bayangkan apabila seluruh warga menyambut mereka dengan kesadaran memilah sampah sejak dari dapur masing-masing. Bayangkan apabila pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media berjalan dalam irama yang sama.
Maka kita tidak sedang membayangkan sesuatu yang utopis.
Kita sedang membangun fondasi sebuah kota masa depan.
“Jika di setiap kelurahan lahir seorang Zulfikar, maka Makassar tidak sedang mengejar penghargaan Adipura. Makassar sedang membangun budaya baru—budaya yang menghormati bumi sebagai rumah bersama.”
Perubahan sebesar itu tentu tidak mungkin dikerjakan oleh satu institusi.
Ia membutuhkan gotong royong ekologis.
Gotong royong ekologis bukan sekadar kerja bakti membersihkan lingkungan setiap akhir pekan. Ia adalah kesediaan seluruh warga untuk berbagi tanggung jawab terhadap siklus kehidupan. Warga memilah sampah. Satgas mengangkutnya sesuai mekanisme. Komunitas mengolahnya menjadi kompos, biodigester, atau eco-enzyme. Akademisi menghadirkan inovasi. Dunia usaha memperkuat investasi hijau. Pemerintah memastikan sistem berjalan secara konsisten.
“Gotong royong ekologis bukan sekadar membersihkan lingkungan. Ia adalah kesediaan untuk berbagi tanggung jawab atas masa depan yang akan diwariskan kepada anak cucu.”
Di Kassi-Kassi kami belajar bahwa optimisme ternyata memiliki wajah yang sangat sederhana.
Ia hadir ketika seorang ibu memisahkan kulit buah dari sampah plastik.
Ia hadir ketika seorang anak mulai memahami bahwa sisa makanan bukan untuk dibuang sembarangan.
Ia hadir ketika seorang petugas bekerja tanpa harus diawasi.
Ia hadir ketika warga mulai percaya bahwa perubahan memang mungkin.
“Di Kassi-Kassi kami belajar bahwa optimisme memiliki bentuk yang sederhana: seorang warga yang memilah sampah, seorang petugas yang bekerja dengan disiplin, dan sebuah kota yang mulai percaya bahwa perubahan memang mungkin.”
Perjalanan menuju Makassar sebagai kota yang benar-benar bersih masih panjang. Akan ada rasa lelah. Akan ada keraguan. Akan ada suara-suara yang menganggap perubahan ini terlalu sulit.
Namun masyarakat Bugis-Makassar telah lama mewariskan sebuah falsafah yang tetap relevan hingga hari ini:
“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai.”
Pepatah itu bukan sekadar semboyan pelaut. Ia adalah filosofi keteguhan. Ketika arah sudah ditentukan dan tujuan telah disepakati, maka tidak ada alasan untuk kembali kepada kebiasaan lama yang terbukti membawa kita pada krisis persampahan.
Pada akhirnya, sejarah sebuah kota tidak hanya ditulis oleh wali kota, pejabat, atau para penyusun kebijakan. Ia juga ditulis oleh warga biasa yang memilih melakukan hal yang benar, meskipun tak banyak orang melihatnya.
Mungkin suatu hari nama Zulfikar tidak tercatat dalam buku-buku sejarah Makassar.
Namun pekerjaan yang ia lakukan hari ini adalah bagian dari sejarah itu sendiri.
“Suatu hari nanti orang mungkin lupa siapa yang pertama mengangkat karung-karung sampah organik itu. Namun sejarah akan mengingat bahwa perubahan besar Makassar pernah dimulai dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.”
Dan barangkali, dari lorong sederhana di Kelurahan Kassi-Kassi itulah, kita kembali diingatkan bahwa kota yang besar tidak dibangun oleh ambisi semata, melainkan oleh kesediaan setiap warganya untuk memikul tanggung jawab bersama. Sebab ketika satu demi satu “Zulfikar” lahir di seluruh penjuru Makassar, gotong royong ekologis bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang perlahan mengubah wajah kota menuju Makassar Bebas Sampah 2029.
![]()
















