Makassar, zona redaksi.id– Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Makassar mendorong penguatan kompetensi tenaga kerja dan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja melalui hasil riset “Pemetaan Kompetensi dan Pengurangan Skill Mismatch Tenaga Kerja dalam Mendukung Transformasi Ekonomi Kota Makassar.” Hasil riset tersebut dipaparkan dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Ibis Makassar, Senin (31/8/2026), dan dibuka oleh Kepala Badan BRIDA Kota Makassar, H. Haidil Adha, S.Sos., M.M., CHRM., dengan Hendrayani, S.E., M.M. selaku Ketua Tim Riset.
Riset ini dilakukan untuk memberikan gambaran empiris mengenai kondisi kompetensi tenaga kerja di Kota Makassar, kesesuaian kompetensi dengan pekerjaan yang dijalankan, peran kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media, serta kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja. Hasil kajian diharapkan menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Makassar dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan yang lebih tepat sasaran dan berbasis data.
Kajian ini menjadi penting seiring perubahan struktur ekonomi yang dipengaruhi digitalisasi, otomatisasi, ekonomi kreatif, hilirisasi, dan perkembangan teknologi. Perubahan tersebut membuat kebutuhan dunia kerja semakin dinamis dan menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang adaptif. Karena itu, peningkatan kompetensi tidak cukup hanya dilakukan dari sisi tenaga kerja, tetapi perlu diikuti dengan upaya mempertemukan kompetensi yang tersedia dengan kebutuhan pekerjaan.
Kompetensi Tenaga Kerja Relatif Tinggi
Penelitian menggunakan survei terhadap 251 tenaga kerja di Kota Makassar dengan 60 indikator, empat konstruk penelitian, serta pengujian tujuh hipotesis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS).
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kompetensi tenaga kerja responden berada pada kategori sangat tinggi. Meski demikian, masih terdapat beberapa area yang memerlukan penguatan, khususnya kemampuan analitis dan problem solving.
Kajian juga mengidentifikasi sejumlah kompetensi yang menjadi prioritas penguatan, yaitu kemampuan bekerja di bawah tekanan, mengambil keputusan secara tepat, memperbarui pengetahuan sesuai kebutuhan dunia kerja, menyampaikan ide atau pendapat dengan jelas, serta memiliki keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan Kota Makassar bukan semata-mata mengenai apakah tenaga kerja memiliki kompetensi, tetapi juga apakah kompetensi tersebut sesuai dengan pekerjaan yang dijalankan dan kebutuhan dunia kerja.
Skill Mismatch Menjadi Perhatian
Hasil penelitian menunjukkan indeks skill mismatch secara agregat relatif rendah, yaitu 1,85. Namun, tingkat mismatch memiliki variasi berdasarkan kelompok tertentu, termasuk sektor perdagangan dengan indeks 2,13 dan tenaga kerja dengan masa kerja kurang dari tiga tahun sebesar 1,94.
Tim peneliti menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada mismatch yang tinggi pada seluruh tenaga kerja, melainkan pada adanya variasi berdasarkan kelompok, sektor, dan fase karier. Karena itu, intervensi kebijakan perlu dilakukan secara lebih terarah dan didukung data kebutuhan tenaga kerja dari pemberi kerja.
Penelitian juga menemukan bahwa kompetensi yang tinggi tidak secara otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja. Hasil pengujian menunjukkan kompetensi tenaga kerja tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, tetapi memberikan pengaruh tidak langsung melalui penurunan skill mismatch.
Dengan demikian, kesesuaian antara kompetensi dan pekerjaan menjadi jembatan penting agar kualitas tenaga kerja dapat diterjemahkan menjadi penyerapan tenaga kerja yang lebih efektif.
Pentahelix Perlu Bergerak sebagai Satu Sistem
Riset juga menempatkan kolaborasi Pentahelix sebagai bagian penting dalam mengurangi kesenjangan keterampilan. Pentahelix melibatkan lima unsur, yaitu pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi Pentahelix berpengaruh terhadap penurunan skill mismatch dan penyerapan tenaga kerja. Penguatan kolaborasi diperlukan karena pengembangan kompetensi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri antara lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan penyedia informasi pekerjaan.
Dari sisi kebutuhan dunia kerja, kajian menemukan bahwa informasi mengenai kebutuhan perusahaan belum sepenuhnya tersedia dan terintegrasi. Karena itu, Makassar membutuhkan data dari dua sisi, yakni supply kompetensi tenaga kerja dan demand kompetensi dari pemberi kerja.
Kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya membangun ekosistem skills-to-jobs, yaitu sistem yang menghubungkan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pekerjaan secara lebih terstruktur.
Dorong Kebijakan Skills-to-Jobs
Berdasarkan hasil penelitian, sejumlah arah kebijakan yang didorong meliputi pembangunan pemetaan kompetensi berbasis supply dan demand, penyusunan pelatihan berdasarkan kebutuhan dunia kerja, pembangunan database kebutuhan kompetensi perusahaan, penguatan link and match antara Disnaker, perguruan tinggi/SMK dan industri, serta penguatan Pentahelix sebagai mekanisme kerja berbasis data.
Riset juga mengusulkan arsitektur kebijakan Skill Matching Kota Makassar yang mencakup skill intelligence dan data pasar kerja, forum Pentahelix keterampilan, pelatihan demand-driven, link and match pendidikan–industri, job matching dan transisi kerja, serta monitoring terhadap hasil penempatan dan keberlanjutan pekerjaan.
Implementasinya dirancang secara bertahap. Tahun 2026 diarahkan sebagai tahap fondasi data, dilanjutkan pilot terarah pada 2027, perluasan pada 2028, dan institusionalisasi pada 2029. Pendekatan tersebut menempatkan data sebagai fondasi dan outcome ketenagakerjaan sebagai tujuan akhir.
Melalui hasil riset ini, BRIDA Kota Makassar mendorong agar kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya berorientasi pada jumlah pelatihan atau jumlah tenaga kerja yang memiliki kompetensi, tetapi juga mengukur relevansi pekerjaan, penggunaan keterampilan, penempatan, dan keberlanjutan pekerjaan.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat pemetaan kebutuhan kompetensi, menyelaraskan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan dunia kerja, memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta meningkatkan penyerapan tenaga kerja dalam mendukung transformasi ekonomi daerah.
BRIDA Kota Makassar terus mendorong riset dan inovasi menjadi bagian dari penguatan kebijakan pembangunan berbasis bukti, termasuk dalam memastikan kompetensi tenaga kerja Kota Makassar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan arah transformasi ekonomi daerah.
![]()















