banner 1080x600
Berita  

Diskusi Buka Puasa HIPMI Sulsel Soroti Transformasi Digital untuk Dorong Ekonomi Kreatif dan UMKM

banner 120x600

Makassar, zona redaksi.id— Pelaksana BPBDHIPMI Sulawesi Selatan Bidang VIII menggelar buka puasa bersama sekaligus diskusi interaktif bertema “Transformasi Digital: Kemajuan Ekonomi Kreatif dan Pertumbuhan Ekonomi Umat” di Vann In Sky, Jalan Aroepala, Makassar, Senin, 9 Maret 2026.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Sulawesi Selatan (Diskominfo SP Sulsel) Sultan Rakib serta Kepala BBLSDM Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Makassar Baso Saleh.

Diskusi ini bertujuan melihat peluang pengembangan ekonomi kreatif melalui transformasi digital. Terlebih, DPD HIPMI Sulsel telah menjalin kerja sama dengan Balai Komdigi untuk mendorong peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu melakukan scale-up usaha melalui pemanfaatan teknologi digital.

Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel, Irma Trisnawati Anwar, berharap kegiatan ini dapat memberikan kontribusi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa yang telah memulai usaha di sektor ekonomi kreatif.

“Acara ini bisa memberikan kontribusi khususnya kaum muda atau mahasiswa yang memiliki usaha di bidang ekonomi kreatif sehingga bisa mengikuti perkembangan di era komunikasi dan informasi yang begitu pesat,” ujarnya.

Ia juga berharap para pelaku usaha muda dapat memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Saya juga berharap teman-teman bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sehingga dapat membantu Pemprov meningkatkan pertumbuhan ekonomi, bahkan bisa lebih dari 5,43 persen,” tambahnya.

Sekretaris Diskominfo SP Sulsel, Sultan Rakib, menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai peningkatan keterampilan teknologi, tetapi juga harus diimbangi dengan kesadaran keamanan dan etika digital.

Menurutnya, ada empat pilar penting dalam literasi digital yang perlu diperhatikan, yakni digital skill, digital safety, digital culture, dan digital ethics.

“Bahwa jangan fokus saja pada bagaimana meningkatkan digital skill di era transformasi digital ini, tetapi juga harus meningkatkan bagaimana selain kecakapan digital dalam hal ini skill juga tiga pilar lainnya,” sebutnya.

Sultan Rakib juga mengapresiasi program Digital Talent Scholarship dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang memberikan pelatihan digital bagi pelajar, mahasiswa, dan pelaku UMKM.

Melalui program tersebut, peserta dapat mempelajari berbagai kompetensi seperti digital marketing, pengembangan bisnis digital, hingga pemanfaatan teknologi untuk usaha.

“Di situ terdapat silabus khusus untuk mahasiswa, pelajar, dan pelaku UMKM. Mereka diajarkan dengan mekanisme belajar mandiri, kemudian digital marketing berbagai level. Ini penting bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan skill digitalnya,” ujarnya.

Ia juga menilai pelaku usaha yang mewarisi bisnis keluarga memiliki peluang besar melakukan transformasi digital.

“Pelaku usaha yang mewarisi usaha orang tua dapat melakukan transformasi dengan menerapkan digitalisasi pada kegiatan usaha seperti transaksi dan sebagainya, sehingga adaptif dengan kondisi sekarang,” katanya.

Ia juga mengingatkan generasi muda, termasuk wirausaha muda, untuk mewaspadai fenomena judi online (judol) dan pinjaman online ilegal yang dapat merusak stabilitas ekonomi pelaku usaha.

“Karena banyak saudara kita yang sukses sudah mampu membangun UMKM, tetapi di satu sisi ada yang terjebak judi online. Ini bagaimana tanggung jawab kita untuk berempati dan menyusun sebuah strategi agar hal-hal ini tidak terjadi di generasi muda mendatang,” katanya.

“Sehebat-hebatnya bermain, yang akan menang itu bandar (judi). Gayung bersambut ada yang namanya pinjol. Jadi biasanya kalau kalah di judol akan berurusan dengan pinjol,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur keuntungan instan di ruang digital.

“Jangan pernah percaya bisa mendapatkan sesuatu yang tinggi atau cuan banyak, tetapi tidak dengan effort yang tinggi. Itu tidak mungkin. Pasang mindset kita di situ,” ujarnya.

Selain itu, Sultan Rakib mengingatkan pentingnya perlindungan keamanan perangkat digital, salah satunya dengan mengaktifkan verifikasi dua faktor.

“Kalau tidak sengaja membuka tautan ilegal tersebut lalu sadar, langsung lakukan factory setting pada handphone misalnya. Karena bisa saja sudah tertanam aplikasi yang melakukan remote control di gawai kita,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BBLSDM Komdigi Makassar, Baso Saleh, menilai tema transformasi digital sangat relevan dengan momentum Ramadan.

“Berbicara transformasi digital, ini menjadi menarik didiskusikan terutama terkait Ramadan. Kita diajarkan tentang disiplin dan melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik dalam konteks transformasi digital,” ujarnya.

Menurutnya, digitalisasi kini telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam dunia usaha.

“Dengan teknologi sekarang jadi mudah. Dulu mesti ada tempat atau toko fisik, sekarang bisa menjual di marketplace. Kita di rumah saja bisa juga melakukan promosi melalui media sosial,” jelasnya.

Transformasi digital dinilai semakin penting mengingat struktur ekonomi Sulawesi Selatan sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat dan dunia usaha.

Data perekonomian daerah menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52,38 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel, disusul investasi sebesar 38,96 persen dan konsumsi pemerintah sekitar 10,76 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM dan digitalisasi ekonomi memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Sulawesi Selatan sendiri memiliki sekitar 1,8 juta pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Digitalisasi juga terlihat dari penggunaan sistem pembayaran digital. Berdasarkan data Bank Indonesia, terdapat sekitar 1,31 juta pengguna QRIS di Sulawesi Selatan, dengan 76,8 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.

Jumlah merchant QRIS di Sulsel juga mencapai sekitar 1,3 juta, menjadikan provinsi ini peringkat ketujuh nasional dengan merchant QRIS terbanyak.

Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS di Sulawesi Selatan mencapai 170,5 juta transaksi, dengan pertumbuhan hingga 116,56 persen.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga memiliki inovasi digital melalui BajuBodo Marketplace yang menjadi platform e-purchasing untuk mendukung UMKM lokal masuk dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Platform tersebut telah mencatat 33.709 produk terdaftar, dengan sekitar 85 persen merupakan produk dalam negeri dari 2.238 penyedia, yang sebagian besar adalah UMKM lokal Sulawesi Selatan.

Total valuasi transaksi melalui platform tersebut telah mencapai Rp211,7 miliar, menjadikannya peringkat ketiga nasional dalam transaksi e-purchasing pemerintah berbasis UMKM.

Dengan dukungan digitalisasi, sektor ekonomi kreatif Sulawesi Selatan seperti kuliner lokal, fesyen daerah, kriya, hingga konten kreatif digital diproyeksikan terus berkembang, seiring posisi Makassar sebagai hub ekonomi di kawasan Indonesia Timur. (*)

banner 1600x399

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *