Makassar,zona redaksi.id– Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Makassar terus memperkuat ekosistem riset daerah sebagai fondasi perumusan kebijakan pembangunan yang berbasis bukti. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Penerimaan Kunjungan Belajar Mahasiswa Mata Kuliah Metode Penelitian Kuantitatif Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin, yang berlangsung pada 8 Oktober 2026 di Ruang Pola SIPAKATAU, Balai Kota Makassar. Kegiatan dibuka oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Makassar, H. Haidil Adha, S.Sos., M.M., CHRM., didampingi Sekretaris Badan, Dr. Alamsyah Sahabuddin, S.STP., M.Si., serta Ketua Tim Inovasi dan Ketua Tim Riset, Dr. Muhammad Amri Akbar, S.P., M.Si. dan Dody Agriyanto, S.Sos., M.Si.
Kunjungan belajar ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung peran BRIDA dalam mengembangkan riset dan inovasi di lingkungan pemerintahan daerah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai bagaimana penelitian, pengkajian, penerapan, pengembangan, dan inovasi dapat berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan pembangunan serta peningkatan kualitas kebijakan publik.
Dalam pemaparannya, BRIDA Kota Makassar menjelaskan perkembangan kelembagaan riset daerah, mulai dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), transformasi kelembagaan, hingga penguatan peran BRIDA sebagai penggerak riset dan inovasi daerah. Perubahan tersebut mencerminkan pergeseran orientasi dari kegiatan penelitian dan pengembangan menuju pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk mendukung pembangunan yang lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.
Riset sebagai Fondasi Kebijakan Pembangunan
BRIDA Kota Makassar menjalankan mandat riset dan inovasi melalui lima fungsi utama, yakni penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, dan inovasi. Kelima fungsi tersebut saling berkaitan dalam menghasilkan pengetahuan, mengembangkan hasil penelitian, mengkaji persoalan kebijakan, mendorong pemanfaatan hasil riset, serta menghadirkan pembaruan yang dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan daerah.
Pendekatan research-based policy menjadi salah satu fondasi penting dalam pelaksanaan fungsi tersebut. Prosesnya dimulai dari identifikasi masalah pembangunan, pemetaan kebutuhan, perumusan pertanyaan riset, penyusunan desain kajian, hingga pelaksanaan penelitian dan penyusunan rekomendasi.
Melalui pendekatan ini, kebijakan diharapkan tidak hanya bertumpu pada asumsi atau pertimbangan administratif, tetapi juga didukung oleh data, hasil analisis, dan bukti empiris yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Riset Kolaboratif Melibatkan Berbagai Pemangku Kepentingan
Dalam membangun ekosistem riset daerah, BRIDA tidak bekerja sendiri. Kolaborasi melibatkan perangkat daerah, perguruan tinggi, peneliti dan tenaga ahli, serta masyarakat sebagai pihak yang memahami persoalan sekaligus penerima manfaat dari kebijakan pembangunan.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pelaksanaan riset di pemerintahan daerah masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya manusia dengan kompetensi riset, ketersediaan dan kualitas data, anggaran, infrastruktur pendukung, koordinasi antarperangkat daerah, serta kemitraan dengan perguruan tinggi.
Melalui sinergi lintas sektor, proses penelitian diharapkan mampu menghasilkan kajian yang lebih relevan, memperkaya sudut pandang analisis, dan meningkatkan peluang pemanfaatan hasil riset dalam penyusunan kebijakan.
BRIDA Kota Makassar juga memaparkan 20 tema riset kolaboratif tahun 2026 yang mencakup beragam isu strategis, mulai dari ketenagakerjaan, produktivitas industri, UMKM, ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata. Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa riset daerah diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembangunan secara lintas sektor.
Mahasiswa sebagai Bagian dari Ekosistem Riset
Keterlibatan mahasiswa dalam kunjungan belajar ini menjadi peluang untuk mempertemukan dunia akademik dengan praktik penyelenggaraan pemerintahan. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembelajar, tetapi juga berpotensi menjadi peneliti, inovator, dan mitra kolaborasi dalam menghasilkan gagasan serta solusi bagi persoalan publik.
Dalam materi yang disampaikan, mahasiswa diperkenalkan pada tahapan keterlibatan dalam ekosistem riset, mulai dari kunjungan belajar dan diskusi, identifikasi persoalan, riset kolaboratif, hingga peluang magang dan pengembangan luaran inovasi.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa metode penelitian kuantitatif tidak berhenti pada pengumpulan dan pengolahan data, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan analisis yang mendukung pengambilan keputusan dan evaluasi kebijakan.
Kegiatan ini sekaligus membuka peluang penguatan kerja sama antara BRIDA Kota Makassar dan Universitas Hasanuddin dalam pengembangan kapasitas riset, pertukaran pengetahuan, serta pelaksanaan penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Mendorong Riset yang Berdampak Nyata
Kunjungan belajar ini menegaskan pentingnya membangun hubungan yang kuat antara riset, inovasi, dan kebijakan publik. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik, melainkan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki pelayanan, menjawab persoalan masyarakat, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan Kota Makassar.
BRIDA Kota Makassar terus mendorong penguatan ekosistem riset yang kolaboratif dan berorientasi pada pemanfaatan hasil penelitian. Dengan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan masyarakat, riset diharapkan menjadi bagian integral dari proses pembangunan daerah.
Melalui penguatan tersebut, Pemerintah Kota Makassar berupaya memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan semakin berbasis bukti, inklusif, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
![]()















