Jakarta, zona redaksi.id– PT PAL Indonesia (Persero) berhasil mengukuhkan posisi Indonesia dalam jajaran elite industri pertahanan maritim dunia. Indonesia kini resmi menjadi negara keempat di dunia yang menguasai teknologi desain hingga produksi kapal perang bersenjata tanpa awak (unmanned naval system) secara mandiri.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., IPU., menyampaikan keberhasilan ini ditandai oleh suksesnya uji coba Torpedo Piranha, sebuah inovasi drone laut bersenjata yang dirancang penuh oleh anak bangsa.
“Melalui pengujian Torpedo Piranha, Indonesia resmi berada di urutan keempat dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China yang mampu mendesain dan memproduksi drone laut bersenjata tanpa awak secara mandiri. Keberhasilan ini langsung menjadi sorotan dan menarik perhatian banyak negara tetangga,” ujar Kaharuddin dalam Ceramah Kebangsaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (23/8/2026).
Kaharuddin mengungkapkan, meski potensi nilai komersial alutsista tersebut di pasar internasional sangat tinggi—bahkan mencapai delapan kali lipat dari harga produksi—PT PAL tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan armada pertahanan dalam negeri terlebih dahulu.
Langkah ini penting untuk mengamankan wilayah laut Indonesia yang sangat strategis, di mana Indonesia menguasai 4 dari 9 chokepoint (jalur penyempitan pelayaran) vital dunia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar, dan Selat Lombok.
“Penuhi dulu kebutuhan dalam negeri untuk menjaga kedaulatan laut kita. Setelah pertahanan domestik kuat, baru potensi pasar ekspor kita garap secara maksimal,” tegasnya.
Selain pengembangan unmanned system, PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pengerjaan proyek kapal perang strategis Fregat Merah Putih untuk TNI AL serta kapal perang sepanjang 163 meter pesanan Angkatan Laut Uni Emirat Arab (UEA) yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.
Pembangunan kapal perang merupakan industri manufaktur bernilai tinggi dengan kerumitan tinggi, di mana satu unit kapal perang membutuhkan sekitar 6 hingga 7 juta komponen (spare parts).
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengikut (follower), tetapi telah mampu berdiri mandiri dan memproduksi alutsista kelas dunia untuk menjaga kedaulatan NKRI,” pungkas Kaharuddin.
PT PAL Indonesia (Persero) merupakan BUMN manufaktur bidang maritim terdepan di Indonesia yang berfokus pada pembangunan kapal perang, kapal niaga, jasa rekayasa umum, serta pemeliharaan dan perbaikan (MRO) fasilitas maritim dan energi.
![]()
















