banner 1080x600
Berita  

Jelajah Sampah Titik ke-13 Digelar di Biringkanaya, Kadis DLH Makassar: Momentum Kolaboratif Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

banner 120x600

Makassar, zona redaksi.id– Program Jelajah Sampah Makassar yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar kembali berlanjut. Memasuki titik ke-13, kegiatan tersebut digelar di Lapangan Kompleks Sika Maseang, Kelurahan Berua, Kecamatan Biringkanaya, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Jelajah Sampah yang dilaksanakan di 15 kecamatan se-Kota Makassar. Program tersebut menjadi gerakan edukatif sekaligus aksi nyata dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mengurangi serta mengelola sampah, sekaligus memperkuat langkah menuju Makassar Bebas Sampah 2029.

Camat Biringkanaya, Maharuddin, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Jelajah Sampah di wilayahnya.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat melihat secara langsung persoalan persampahan sekaligus membangun kepedulian bersama terhadap kebersihan lingkungan.

Ia menegaskan, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah.

Dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, mulai dari rumah tangga, komunitas hingga berbagai unsur lainnya.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari kesadaran kita bersama. Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi dengan membiasakan memilah sampah dan menjaga lingkungan di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Helmy Budiman: Jelajah Sampah Jadi Gerakan Edukatif

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, menjelaskan bahwa Jelajah Sampah Makassar merupakan program yang kembali dilaksanakan DLH sebagai gerakan edukatif dan aksi nyata untuk memperkuat langkah menuju Makassar Bebas Sampah 2029.

Menurut Helmy, program tersebut menjadi momentum kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pembatasan timbulan sampah.

Melalui Jelajah Sampah Makassar, masyarakat diajak mengenal lebih dekat persoalan sampah di wilayah mereka sekaligus mempelajari cara menjadi bagian dari solusinya.

“Program ini dirancang dengan pendekatan edukatif dan interaktif agar lebih mudah diterima semua kalangan, mulai dari pelajar, komunitas hingga masyarakat umum,” jelasnya.

DLH Makassar, lanjut Helmy, secara konsisten melakukan berbagai upaya untuk menjaga kualitas dan fungsi lingkungan melalui pengelolaan sampah mandiri dan berkelanjutan.

Rangkaian Jelajah Sampah menghadirkan kegiatan indoor dan outdoor. Kegiatan indoor meliputi pelatihan pembuatan eco-enzyme, maggot, serta pengolahan sampah melalui biopori dan komposter.

Sedangkan kegiatan outdoor meliputi talk show dan diskusi persampahan serta pameran produk daur ulang.

Salah satu rangkaian kegiatan yang telah dilakukan yakni plogging dan timbang sampah, sebagai bentuk aksi nyata masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Ketua lingkungan hidup yang juga Ketua TP PKK Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, menekankan bahwa kegiatan Jelajah Sampah bukan sekadar kegiatan memungut dan membersihkan sampah, tetapi menjadi momentum untuk membuka mata dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Dalam sambutannya, Melinda menjelaskan bahwa kata “jelajah” identik dengan petualangan dan penjelajahan hal-hal baru. Namun dalam kegiatan ini, masyarakat diajak menjelajah bukan sekadar untuk menyusuri jalan atau menikmati pemandangan, melainkan untuk melihat dan memahami kondisi lingkungan secara langsung.

“Sampah sering kali menjadi masalah yang tersembunyi di balik sudut-sudut jalan, selokan, dan fasilitas publik. Lewat Jelajah Sampah ini, kita tidak hanya datang untuk memungut dan membersihkan, tetapi juga untuk membuka mata dan memasang kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar kita,” tutur Melinda.

Ia mengatakan, salah satu hal penting dalam kegiatan tersebut adalah edukasi nyata, yakni memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai jenis-jenis sampah yang selama ini dihasilkan, baik sampah organik maupun anorganik.

Menurut Melinda, pemahaman tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah.

Masyarakat tidak hanya diajak mengetahui persoalan sampah, tetapi juga memahami bagaimana sampah dapat dipilah, dikelola dan memiliki nilai manfaat.

BSI Maslahat Salurkan CSR Rp75 Juta

Selain rangkaian edukasi dan aksi lingkungan, kegiatan Jelajah Sampah Kecamatan Biringkanaya juga menjadi momentum kolaborasi dengan pihak swasta.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Makassar turut memberikan dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp75 juta untuk Kecamatan Biringkanaya.

Bantuan CSR tersebut diterima langsung oleh Camat Biringkanaya, Maharuddin, sebagai bentuk dukungan dan kepedulian dunia usaha terhadap kegiatan di wilayah Kecamatan Biringkanaya.

Dukungan tersebut diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas dan dunia usaha dalam menghadirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung upaya menjaga lingkungan.

Melinda Aksa berharap Jelajah Sampah di Kecamatan Biringkanaya dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Jelajah Sampah ini mari kita jadikan momentum untuk membuka mata, memasang kepedulian, dan bersama-sama menjaga lingkungan kita,” pesannya.

Sinergi lintas sektor tersebut menjadi modal penting untuk membangun kesadaran kolektif, membentuk kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah serta menebarkan semangat perubahan di seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat pun diimbau untuk hadir, belajar dan berkontribusi dalam setiap rangkaian kegiatan sebagai bagian dari langkah besar menjadikan Makassar sebagai kota percontohan dalam pengelolaan lingkungan menuju Makassar Bebas Sampah 2029.

Pelaksanaan kegiatan ini bersumber dari APBD melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar pada Sub Kegiatan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Persampahan Tahun 2026.

Jelajah Sampah titik ke-13 di Kecamatan Biringkanaya diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gerakan nyata dan berkelanjutan dari masyarakat untuk mengurangi, memilah, mengolah dan mengelola sampah mulai dari lingkungan masing-masing.

Loading

banner 1600x399

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *