Makassar,zona redaksi.id— Ketua RT 002/RW 001, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Sri Rahmi Mahmud, SH., MH., membagikan pengalaman menerapkan pemilahan sampah dari sumber (lingkungan) rumah.
Ia mengajak seluruh ketua RT/RW dan masyarakat untuk mendukung kebijakan Pemerintah Kota Makassar melalui gerakan memilah sampah dari rumah, karena program itu serentak secara nasional.
Menurut Sri Rahmi, lingkungan yang dipimpinnya telah memulai gerakan pemilahan sampah sejak 10 April 2026 atau sekitar empat bulan sebelum kebijakan pemilahan sampah secara menyeluruh diberlakukan pada 1 Agustus 2026.
“Kami RT 02 RW 01 Kelurahan Rappokalling Kecamatan Tallo sejak tanggal 10 April 2026, Alhamdulillah sudah memulai memilah sampah dan mengolah sampah organik,” ujarnya, Senin (3/8/2026).
Ibu RT tersebut menilai, kebijakan pemilahan sampah yang diterapkan Pemerintah Kota Makassar merupakan langkah yang sangat tepat.
Menurutnya, ketika sampah dipilah sejak dari rumah, proses pengolahan menjadi jauh lebih mudah dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Karena dengan kita memilah, kita bisa lebih mudah mengolah sampah. Alhamdulillah saat kebijakan mulai berlaku pada 1 Agustus 2026 kami sudah terbiasa karena sudah empat bulan menjalankannya,” katanya.
Sri Rahmi menjelaskan, sampah organik di wilayahnya diolah melalui berbagai metode di Sekolah Mangkasara.
Mulai dari penggunaan ember komposter, lubang biopori, budidaya maggot hingga biopori jumbo.
Sementara itu, di setiap lorong juga disediakan ember berukuran besar khusus untuk menampung sampah organik.
Ember tersebut diberi lubang di bagian bawah agar air lindi dapat langsung meresap ke dalam tanah, sedangkan isi ember difokuskan untuk menghasilkan kompos padat.
“Jadi, sampah organik yang tidak kami olah di Sekolah Mangkasara, kami tampung di ember jumbo yang ada di setiap lorong,” tuturnya.
“Air lindinya langsung keluar ke tanah sehingga yang tersisa hanya bahan untuk menjadi kompos padat,” tambah dia.
Dijelaskan, untuk sampah anorganik seperti gelas plastik, botol plastik dan kardus, warga didorong untuk menyedekahkannya kepada pemulung yang berada di lingkungan setempat.
Apalagi, di setiap lorong juga disediakan keranjang khusus sebagai tempat penampungan sampah plastik.
Selain itu, setiap Rabu sore setelah kegiatan pengajian rutin ibu-ibu, warga membawa gelas plastik yang telah dibersihkan untuk kemudian ditukarkan dengan kebutuhan pokok melalui Bank Sampah Unit Sekolah Mangkasara.
“Setelah mengaji, ibu-ibu mengumpulkan gelas plastik yang sudah bersih, kemudian ditukar dengan kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras dan gula melalui bank sampah unit,” ungkapnya.
Ditambahkan, dengan pola tersebut, hanya sampah residu yang akhirnya diangkut oleh petugas kebersihan menuju tempat pemrosesan akhir.
Sri Rahmi berharap masyarakat tidak berhenti hanya pada kebiasaan memilah sampah, tetapi juga mulai belajar mengolahnya sehingga volume sampah yang dibuang dapat terus berkurang.
“Setelah kita belajar memilah sampah, mari kita sama-sama belajar mengolah sampah. Kami bisa, Insya Allah kamu juga pasti bisa,” bebernya.
“Semua berawal dari kemauan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada ketidakmauan, di situ banyak alasan,” lanjut dia, memberi semangat.
Untuk meningkatkan partisipasi warga, pihaknya juga menerapkan pendekatan yang lebih persuasif melalui pemberian insentif berupa kebutuhan pokok bagi masyarakat yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah.
“Mungkin karena pendekatannya. Kami memberikan hadiah berupa sembako seperti minyak goreng, beras dan gula kepada warga yang aktif,” jelasnya.
Dia berharap pengalaman yang telah dijalankan di lingkungan RT 002/RW 001 dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis sumber sekaligus menyukseskan kebijakan Pemerintah Kota Makassar menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Sri Rahmi mengungkapkan, perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi secara instan. Ia memulainya dari anak-anak binaannya di Sekolah Mangkasara sebelum akhirnya mengajak seluruh warga ikut terlibat.
Pengalaman lain juga, bersama anak-anak binaan di Sekolah, pihaknya membersihkan lingkungan. Dari situlah program ini mulai berjalan sejak 10 April 2026.
“Saya tidak langsung mengajak warga, yang pertama kami benahi adalah drainase yang sangat kotor dan lokasi pembuangan sampah yang meresahkan masyarakat,” tukasnya. (*)
![]()
















